Seni dan Budaya

Seni Kentrung Blora Masih Berkumandang


Penampilan khas seniman kentrung Muhammad Yanuri Sutrisno (54) masih menghibur warga pada pertunjukan seni tradisi Blora di panggung terbuka Alun-Alun-Blora, Minggu (17/12/2017) malam. Seniman yang bertahan asal Desa Sendangggayam, Kecamatan Banjarejo itu sengaja dihadirkan oleh panitia untuk tampil bersama sejumlah kesenian tradisional Blora lainnya.

Pertunjukan langka itu menjadi perhatian warga masyarakat sekitar. Mata dan pandangan tak bergeming manakala Yanuri menyampaikan pantun (wangsalan dan parikan) kocak yang diracik dalam olah seni vokal diiringi sejumlah rebana (trebang).

“Ini berkah akhir tahun 2017 bagi saya, semoga kesenian kentrung Blora masih diminati dan tetap lestari,” ujar Yanuri usai pentas.
Di atas panggung, Yanuri kemudian mengalungkan mike lantas menyampaikan kisah lahirnya Nabi Ibrahim sambil sesekali diselingi puji-pujian Islam dan sejumlah pantun pembangunan.

Seperti diketahui keberadaan kentrung makin kalah dengan seni pertunjukan moderen. Seniman kentrung yang masih bertahan di Blora Muhammad Yanuri Sutrisno.

Yanuri mengakui namanya cukup dikenal di kalangan pengamat, pemerhati dan pelaku serta sejumlah praktisi seni tradisional. Tidak hanya itu, beberapa media pun memberitakan seni kentrung Blora.

Hanya saja nasib berkeseniannya tidak mujur. Dirinya tak lebih sebagai pengamen yang ingin bertahan dari pola tradisional berkesenian.

Kesenian Kentrung Blora sudah dikenal sejak lama. Seni yang didominasi sejumlah alat musik membranophone (rebana/trebang) tersebut nasibnya lebih parah dari wayang kayu Blora. Padahal seni tersebut memuat dan menyampaikan cerita yang tak terlepas dari siar dan dakwah tentang kisah ketauladanan dan riwayat kenabian serta sejarah lainnya. Keberadaan kentrung makin kalah dengan seni pertunjukan moderen.

“Mbok saya ini dibantu promosi agar laku dan ada yang nanggap kentrung. Biar tetap lestari dan dikenal generasi sekarang. Selain itu untuk penghasilan,” ujar Muhammad Yanuri Sutrisno.

Suami Wasi itu mengungkapkan seperangkat peralatan dan ilmu seni vokal bertutur yang digelutinya merupakan warisan dari almarhum Bapaknya yang bernama Sutrisno. Kemudian merasa terpanggil dan memiliki bakat ngentrung, maka sejak tahun 2003 dirinya mempromosikan sebagai seniman kentrung Blora.

“Sejatinya cerita yang dimainkan adalah kisah dan sejarah para Nabi seperti Nabi Muhammad atau kisah Nabi Ibrahim, kemudian diselingi dengan cengkok parikan agar lebih menarik,” ujarnya.

Biasanya disuguhkan pada acara pupakan puser bayi, khitanan, tingkeban, mantenan atau acara tertentu.

“Tergantung siapa yang menanggap dan acara apa saja, tapi ini sedang sepi tanggapan, sepertinya sudah dilupakan. Saya tidak pasang tarif mahal,” kata Yanuri.

Seni kentrung, menurut pandangan Yanuri, mengandung filosofi yang dalam, yakni manusia itu harus berpegang pada pedoman hidup yang tidak boleh ditinggalkan. Dia menafsirkan, yang dimaksud adalah Rukun Islam dan Rukun Iman.

Kepala bidang Kebudayaan Dinporabudpar Setyo Pujiono mengungkapkan pelestarian seni tradisional seperti kentrung dan wayang kayu perlu disejajarkan dengan pelestarian seni lainnya.

“Untuk kentrung bagaimana bisa menarik, apakah musiknya dikolaborasi atau ditambah sehingga ada garapan bagus tanpa meninggalkan keasliannya. Saya kira itu perlu agar generasi muda tertarik, apalagi senimannya tinggal Pak Yanuri,” ujarnya. (Dinkominfo Kab. Blora).

    Berita Terbaru

    Media Center Blora Dapat Penghargaan Kemenkominfo RI
    23 Februari 2018 Jam 16:44:00

    Media Center Kabupaten Blora mendapat penghargaan pengelolaan media center terbaik 2017 dari...

    Siswa SMPN 1 Sambong Dibekali Pengetahuan Safety Riding Berkendara
    20 Februari 2018 Jam 09:14:00

    Satuan Lalu Lintas Polres Blora mengadakan kegiatan pengetahuan safety riding kepada siswa di...

    Jelang Pilkada Jateng Dibentuk Gakkumdu Blora
    20 Februari 2018 Jam 06:15:00

    Menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018, jajaran Panwaskab dan penegak...